KIR "Biopori Spensabra"
PEMBUATAN KOMPOS YANG EFEKTIF MENGGUNAKAN TEKNOLOGI BIOPORI TEPAT GUNA
KADEK PANDE DANENDRA PRAMANA
NISN : 0086846148
I DEWA AYU TRIANOVA
NISN : 0082728557
NI LUH PUTU AYU WIDYANTARI
NISN : 0085101161
ABSTRAKSI
Pembuatan Kompos yang Efektif Menggunakan Teknologi Biopori Tepat Guna (Kadek Pande Danendra Pramana, 2023, 34 Halaman)
Pembuatan biopori tepat guna selain berfungsi menambah resapan air hujan, juga sekaligus tempat pembuatan kompos, dengan tujuan mengatasi tingginya volume sampah organik. Teknologi sederhana ini merupakan salah satu kreativitas sebagai generasi-Z dengan memanfaatkan media teknologi informasi menuju masyarakat era revolusi industri 5.0
Karya tulis ini bertujuan : 1) Dapat membuat kompos dengan sampah organik melalui teknologi biopori tepat guna di sekitar lingkungan rumah dan lingkungan sekolah, 2) Membuat eksperimen dengan perbandingan bahan limbah kotoran hewan untuk mempercepat proses terbentuknya kompos pada teknologi biopori tepat guna, dan 3) Melakukan uji coba kualitas kompos yang dihasilkan melalui beberapa uji laboratorium sekolah.
Eksperimen menggunakan kotoran hewan sebagai variabel bebas, terhadap variabel tetap yaitu sampah organik coklat dan sampah organik hijau yang diletakkan dalam 4 buah lubang biopori. Hasil kompos dari teknologi biopori tepat guna dilakukan uji kualitas kompos dengan uji fisik untuk butiran kompos, uji keasaman dengan kertas lakmus, dan uji efektivitas kompos dengan mengamati tingkat pertumbuhan kecambah.
Indikator keberhasilan kompos yang dihasilkan memenuhi syarat kematangan kompos dengan ciri-ciri : warna coklat kehitaman, tidak berbau, derajat keasaman pH=7, dan temperatur selama pengomposan 2 minggu di atas normal 28,27oC. Kotoran hewan merupakan dekomposer yang baik, murah, ramah lingkungan, dan mempercepat waktu terbentuknya kompos yaitu cukup dua minggu dalam biopori sederhana. Kompos yang dihasilkan tetap memilki kualitas kompos yang baik, dapat dilihat dari segi warna kematangan kompos berupa tanah berwarna coklat kehitaman, dan tingkat kecepatan tumbuh kecambah yaitu 1230 mm selama empat hari.
Kesimpulan yang diperoleh yaitu pembuatan kompos yang efektif dengan menggunakan teknologi biopori tepat guna, dengan perbandingan yaitu sampah organik hijau (1) : sampah organik coklat (1) : tanah (1) : dan kotoran hewan (0,5). Perbandingan tersebut menghasilkan kompos yang baik dalam waktu lebih singkat berkisar 2 minggu.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah.
Peran generasi muda sebagai Generasi-Z dalam abad teknologi adalah mampu mengaplikasikan data yang diakses, sehingga menjadi generasi muda yang aktif dan kreatif. Meningkatkan kualitas diri sebagai bagian dari sumber daya manusia (SDM) serta SDM di lingkungan sekitarnya merupakan bagian dari tujuan revolusi industri 5.0. Teknologi menjadi bagian yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, mulai dari memperoleh informasi, berinteraksi, maupun bertransaksi, yang kesemuanya menggunakan produk informasi dan komunikasi.
“Masyarakat 5.0” atau “Society 5.0”. adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permaalahan sosial dengan memanfaatkan beragam inovasi yang lahir di era revolusi industri 4.0. Ide mengelola lingkungan dengan beragam teknologi sederhana selalu diupayakan sebagai bagian dari kemajuan suatu wilayah, bangsa, dan negara.
Kemajuan teknologi dan industri mendambakan lingkungan yang sehat, bersih, asri dengan taman yang indah dan subur merupakan dambaan setiap penduduk yang madani. Tetapi seiring dengan bertambahnya penduduk di suatu wilayah sangat berdampak pada lingkungan sekitarnya. Mengutamakan fungsi tanah yang untuk rumah, mengakibatkan luas halaman rumah juga semakin sempit. Halaman yang sempit dan terbatas juga umumnya ditutupi dengan beton, sehingga permukaan tanah yang terbuka semakin sedikit.
Sisa tanah pemukiman akan cenderung kurang diperhatikan atau dikelola, sehingga kesuburan tanah menjadi berkurang. Tanah yang tidak subur akan mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air. Lingkungan yang padat juga akan mempersempit tanah sebagai wilayah resapan dan aliran air kedalam tanah. Seringkali drainase yang sudah ada belum cukup mampu untuk mengalirkan air hujan yang melimpah, apalagi disertai banyaknya volume sampah yang akan mempertinggi faktor penyebab terjadinya banjir.
Sampah organik yang menumpuk terlalu lama juga akan menimbulkan resiko yang tidak baik. Jika seluruh sampah organik rumah tangga diolah melalui TOSS, tentulah ada kendala volume, waktu, dan biaya pengangkutan. Jika dalam jangka waktu panjang, dengan penduduk yang semakin padat, tentunya akan menambah beban bagi pemerintah.
Mencegah dampak buruk dari menumpuknya sampah organik dan menjaga kesehatan lingkungan sekitarnya, diperlukan sistem pengelolaan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan, tentunya memerlukan ide kreativitas tersendiri. Salah satunya adalah membuat teknologi biopori tepat guna yang mudah dibuat. Biopori yang dibuat dengan seefektif mungkin dengan fungsi selain untuk resapan air hujan, juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat pembuatan kompos.
Pembuatan biopori yang merupakan sumur resapan air hujan yang dibuat dengan kedalaman kurang lebih 1,5 meter dan diameter 80-100 cm. Sebagai sumur resapan air yang kuat, dasarnya diisi koral sekitar ketinggian 15 cm, dan dindingnya dibuat dari beton. Biopori ini tentunya diharapkan efektif untuk mencegah banjir, karena itu dibuat di tanah yg datar dan tidak labil, jauh dari septik tank, tempat penimbunan sampah, dan minimal berjarak satu meter dari fondasi bangunan.(Knowelde Centre Perubahan Iklim, 2017)
Biopori sebagai teknologi yang tepat guna dapat dibuat di rumah dengan ukuran diameter 10 cm dengan kedalaman sekitar 1 meter, dan jarak minimal 0,5 meter, tanpa dinding beton ataupun paralon. Lubang ditutup dengan kaleng bekas yang berlubang kecil-kecil. Teknologi biopori tepat guna ini juga merupakan teknologi ramah lingkungan yang membantu mengurangi genangan air akibat hujan, sehingga mencegah dampak lain yang diakibatkannya seperti mewabahnya penyakit malaria, demam berdarah, atau kaki gajah. (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, 2021)
Teknologi biopori tepat guna juga bisa difungsikan sekaligus sebagai pembuatan kompos, untuk mencegah menumpuknya sampah organik di lingkungan sekitarnya. Fungsi ganda biopori ini selain mengatasi banjir, menghasilkan kompos, dan secara tidak langsung ikut mengurangi dampak pemanasan global (Global Warmning). Kompos yang dihasilkan dapat membantu mengembalikan kesuburan tanah, dan jika dikelola dengan baik tidak menutup kemungkinan menjadi sumber ekonomi.
Pembuatan kompos dengan menggunakan biopori umumnya memerlukan waktu minimal 2-3 bulan. Jika sampah organik yang dihasilkan cukup banyak, maka tenggang waktu tersebut cukup lama, dan tentunya akan timbul timbunan sampah organik lainnya lagi yang disertai dampak negatif yang ditimbulkannya. Pengelolaan sampah organik yang efektif waktu menjadi kajian yang menarik. Salah satu upaya meminimalkan waktu proses pembuatan kompos adalah dengan menambahkan kotoran hewan dalam sampah organik yang akan diproses dalam biopori. Sampah organik yang akan dijadikan kompos memiliki kandungan Karbon dan Nitrogen yang seimbang. Sampah Organik yang kaya Karbon umumnya berciri-ciri kering, kasar atau berserat dan berwarna coklat, misal daun dan rumput kering, sekam, serbuk gergaji. Sedangkan ciri-ciri sampah yang kaya akan Nitrogen adalah berwarna hijau dan mengandung air, misal sayuran, atau sampah dedaunan.
Pembuatan teknologi biopori tepat guna sekaligus sebagai tempat pengolahan sampah organik menjadi kompos, memilki banyak segi positip yang akan dirasakan oleh masyarakat. Selain mendapatkan kompos yang dapat mengembalikan fungsi tanah sebagai lahan subur untuk tanaman, berkurangnya genangan air ketika musim hujan, berkurangnya dampak pemanasan global, mengurangi beban pemerintah dalam sistem pengangkutan sampah organik, juga tidak menutup kemungkinan menjadi sumber ekonomi keluarga.
Melihat pentingnya fungsi teknologi biopori tepat guna dan tepat guna tersebut, maka upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah dapat dilakukan jika proses pembuatan kompos yang efektif dari segi waktu. Kotoran hewan yang dipergunakan untuk membantu mempercepat proses pengomposan perlu diujicoba perbandingan hasil kualitas komposnya. Untuk itu kami melakukan uji coba, eksperimen, dan pengamatan secara sederhana di sekolah kami SMP Negeri 1 Banjarangkan, dan menggunakan kotoran hewan sebagai bahan yang membantu efektivitas waktu proses pengomposan. Perbedaan perbandingan kotoran hewan sebagai variabel bebas, menjadi bagian dari pengamatan kami terhadap variabel tetap sampah coklat dan sampah hijau
Berdasarkan uraian di atas, maka kami menyusun laporan pengamatan kami kami dalam bidang teknologi dan lingkungan dengan judul “Pembuatan Kompos yang Efektif Menggunakan Teknologi Biopori Tepat Guna”.
Rumusan Masalah
Bagaimanakah cara membuat kompos yang efektif dengan menggunakan teknologi biopori tepat guna ?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah ditetapkan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1) Dapat membuat kompos dengan sampah organik menggunakan teknologi biopori tepat guna di lingkungan sekolah dengan menggunakan peralatan pembuatan biopori yang sudah ada.
2) Membuat eksperimen perbedaan perbandingan bahan limbah kotoran hewan untuk mempercepat proses terbentuknya kompos pada teknologi biopori tepat guna.
3) Melakukan uji coba kualitas kompos yang dihasilkan melalui beberapa uji laboratorium sekolah.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan penelitian ini adalah:
Bagi Siswa/Peneliti
- Memiliki kemampuan membuat teknologi biopori tepat guna yang tepat guna, baik sebagai resapan air hujan maupun pembuatan kompos.
- Mengetahui efektifitas terbentuknya kompos dengan perbedaan perbandingan dekomposer yaitu kotoran hewan yang dipergunakan dalam proses pengomposan.
- Menganalisis hasil kompos yang dibuat dengan teknologi teknologi biopori tepat guna, dengan mengadakan beberapa uji laboratorium sekolah.
- Sebagai dasar bagi penelitian lanjutan yang akan peneliti lakukan tentang pembuatan biopori dengan kapsitas yang lebih besar khususnya dalam mengelola sampah organik secara mandiri.
METODE PENELITIAN DAN TEKNIK ANALISIS DATA
Setting Penelitian
Subjek Penelitian : Efektifitas proses pengomposan dengan melakukan eksperimen perbedaan perbandingan kotoran hewan dengan menggunakan teknologi biopori tepat guna. Objek Penelitian : Kualitas kompos yang dihasilkan dengan uji fisik dan kimia di Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan.
Metode Penelitian
Eksperimen dengan menggunakan kotoran hewan (kotoran ayam) sebagai variabel bebas, terhadap variabel tetap yaitu sampah organik coklat dan sampah organik hijau yang diletakkan dalam 4 buah biopori tepat guna. Melakukan percobaan uji kualitas kompos yang dihasilkan dengan uji fisik untuk butiran kompos, uji keasaman dengan kertas lakmus, dan uji efektivitas kompos dalam pertumbuhan kecambah di Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan.
Teknik Analisis Data
Menganalisis secara kuantitatif dan kualitatif kompos yang dihasilkan dalam teknologi biopori tepat guna dengan uji fisik untuk butiran kompos nya, uji keasaman dengan lakmus, dan uji efektivitas kecepatan tumbuh kecambah yang dilakukan di Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian yang didapatkan setelah eksperimen pembuatan kompos dengan perbedaan perbandingan kotoran hewan dalam sampah organik SMP Negeri 1 Banjarangkan, yaitu :
Proses pembuatan kompos yang efektif dengan perbandingan kotoran hewan menggunakan teknologi biopori tepat guna, yang di laksanakan di halaman sekolah SMP Negeri 1 Banjarangkan, Pengamatan fisik kompos berupa butiran kompos dan warna kompos setelah dua minggu dalam biopori tepat guna. Pengamatan kimia kompos berupa bau yang ditimbulkannya, juga derajat keasaman kompos dengan uji lakmus. Pengamatan kualitas kompos yang dihasilkan biopori tepat guna melalui pengamatan pertumbuhan kecambah yang diakukan selama empat hari yang dilaksanakan di Lab IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan.
Hasil Penelitian
Tabel 4.2. Temperatur Kompos
Kompos Biopori No | Temperatur Kompos Minggu-1 (0C) |
Temperatur Kompos Minggu-2 (0C) | |
Sebelum Diaduk | Setelah Diaduk |
| |
I | 32,2 | 33,0 | 28,2 |
II | 32,4 | 33,7 | 28,8 |
III | 31,7 | 33,5 | 28,4 |
IV | 32,5 | 34,0 | 28,7 |
Rata-Rata | 32,20 | 33,55 | 28,27 |
Tabel 4.3. Hasil Uji Derajat Keasaman Kompos
No. | Kompos No | Uji Lakmus Merah | Uji Lakmus Biru | Kesimpulan |
1 | Air (kontrol) | merah | biru | Netral, pH = 7 |
2 | I | merah | biru | Netral, pH = 7 |
3 | II | merah | biru | Netral, pH = 7 |
4 | III | merah | biru | Netral, pH = 7 |
5 | IV | merah | biru | Netral, PH = 7 |
Rata-rata | Netral, PH = 7 | |||
Pembahasan
Indikator Keberhasilan Eksperimen
Berdasarkan analisis data di atas, maka ada beberapa indikator keberhasilan eksperimen kompos dengan dekomposer kotoran ayam, maka dapat disimpulkan. Warna kompos secara umum sudah menyerupai tanah, yang warnanya coklat kehitaman adalah kompos III dan IV. Semua kompos beraroma tanah. Berdasarkan Tabel 4.5 Analisis Berat Kompos, tingkat penyusutan kompos dari berat awal adalah 37,5%. Suhu kompos yang matang selama 2 minggu berdasarkan Tabel 4.3 memiliki suhu rata 28,27oC. Kompos yang dihasilkan tidak terlalu basah, kandungan airnya sedikit, dilihat dari Tabel 4.5 Analisis Berat Kompos, rata-rata beratnya adalah 88,40%. Kandungan air terdapat pada bagian kompos yang menggumpal rata-rata sekitar 11,60%. Kompos yang diletakkan dilaboratorium IPA selama 6 hari tetap berwana coklat kehitaman, tidak berbau, yang membuktikan kompos sudah matang dengan baik dan siap digunakan. Biopori yang dipergunakan dalam kondisi musim hujan, memiliki kemampuan menyerap air sesuai dengan Tabel 4.5 Berat Kompos adalah 37,5% dari volume biopori rata-rata sekitar 0,1 m3.Proses pembuatan kompos selama dua minggu dengan kematangan hasil kompos, warna, dan bau dikatakan cukup efektif.9. Semua kompos memiliki derajat keasaman yang sesuai uji kertas lakmus diperoleh rata-rata pH =7. Tingkat pertumbuhan kecambah yang paling tinggi adalah kompos dengan perbandingan III. Jika hasil kompos III dan IV memilki banyak kemiripan hasil, maka kompos dengan perbandingan III lah yang paling efektif dalam proses maupun hasil.
PENUTUP
Simpulan
Pembuatan kompos yang efektif dengan menggunakan teknologi biopori tepat guna, dengan perbandingan yaitu sampah organik hijau (1) : sampah organik coklat (1) : tanah (1) : dan kotoran hewan (0,5). Perbandingan tersebut menghasilkan kompos dalam waktu singkat hanya 2 minggu, dengan kualitas kompos yang baik.
Saran
1. Mewujudkan lingkungan yang bersih sebagai pendukung masyarakat madani dalam era revolusi 5.0, tidak hanya sekedar mengumpulkan sampah saja. Tetapi selalu membiasakan memilah sampah rumah tangga ataupun instansi pemerintah/swasta khususnya sampah organik.
2. Pengolahan sampah organik menjadi kompos sangat penting untuk dilaksanakan di lingkungan rumah dengan membuat biopori tepat guna yang memiliki fungsi ganda, yaitu mengelola lingkungan yaitu sebagai resapan air hujan dan berfungsi sebagai pengomposan limbah daun yang efektif.
3. Dekomposer kotoran ayam sangat baik dimanfaatkan karena murah, dan mengurangi limbah ternak ayam petelur di sekitarnya. Perlu dilakukan uji eksperimen dengan kotoran hewan lainnya.
4. Perlu dilaksanakan penelitian lebih lanjut ukuran biopori tepat guna yang dibuat yang juga sebagai tempat pengomposan untuk tingkat resapan air yang lebih tinggi, khususnya di daerah yang rawan banjir.
5. Jika pengolahan sampah organik sudah baik dan dikelola dalam satu wilayah, maka banyak penghematan yang dilakukan, yaitu mengurangi biaya transportasi pengangkutan sampah organik, mencegah banjir, membuat kompos yang akan mengembalikan kesuburan tanah, dan tidak menutup kemungkinan menjadi lahan ekonomi yang menjanjikan jika dikelola dengan baik.
6. Hasil penelitian ini juga diharapkan menjadi acuan regulasi untuk dibuatnya teknologi biopori tepat guna di sekitar fasilitas umum, perkantoran, dan taman kota, meskipun sudah ada drainase atau got.
FOTO-FOTO DOKUMENTASI
Aji Gusti Prabowo, 2021. Mudah Diterapkan, Ini Cara Membuat Pupuk dari Kotoran Ayam. https://bangka.tribunnews.com/2021/06/24. Diakses pada tanggal 11 Juli 2022
Anton Muhajir, 2019. “Inilah Data dan Sumber Sampah Terbaru di Bali”, https://www. mongabay.co.id/byline/anton-muhajir-denpasar. Diakses pada tanggal 2 July 2022.
Badan Pusat Statisik Provinsi Bali, 2020. “Hasil Sensus Penduduk Provinsi Bali”, https://bali.bps.go.id, Diakses pada tanggal 1 Juli 2022 pukul 17.30.
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, 2021. Lubang Resapan Teknologi biopori tepat guna Tepat Guna. https://dlh.bulelengkab.go.id/informasi/detail /artikel. Diakses pada tanggal 02 Juli 2022
Dinas Lingkungan Hidup Palangkaraya, 2020. Membuat Kompos dari Bahan Organik. https://dlh.palangkaraya.go.id/membuat-kompos-dari-sampah-organik. Diakses pada tanggal 08 Juli 2022
Firmansyah, M. Anang, 2010. Teknik Pembuatan Kompos. http://kalteng. Litbang. pertanian.go.id. Diakses pada tanggal 9 Juli 2022
Humas DLH Kulon Progo, 2020. Pembuatan Pupuk Kompos : Persyaratan, Tahapan, Serta Permasalahan dan Solusinya. https://dlh.kulonprogokab. go.id. Diakses pada tanggal 9 Juli 2022
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Versi daring: 3.9.1.1-20220601213932), 2016. “Sampah”, https://kbbi.kemdikbud.go.id/, Diakses pada tanggal 9 Juli 2022.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Versi daring: 3.9.1.1-20220601213932), 2016. “Kompos”, https://kbbi.kemdikbud.go.id/, Diakses pada tanggal 9 Juli 2022.
Konsep Teknologi Ramah Lingkungan, 2021. https://environment-indonesia.com, Diakses pada tanggal 6 Juli 2022.
Knowledge Centre Perubahan Iklim, 2017. Peresapan Air Biopori. http://ditjenppi. menlhk.go.id/kcpi/index.php/inovasi. Diakses pada tanggal 02 Juli 2022
Luh De Suriyani, 2020. “Melihat Pengolahan Sampah Jadi Briket Energi di Kabupaten Klungkung”, http://www.mongabay.co.id, Diakses pada tanggal 4 Juli 2022
Maulana Says Green, 2019. Ciri-Ciri Kompos Matang. https://msg3organic.co.id/ ciri-ciri-kompos-matang. Diakses pada tanggal 2 Juli 2022.
Mila Sani, 2022. Peran Generasi Muda Sebagai Agent of Change dalam Menghadapi era Society 5.0. https://sohib.indonesiabaik.id/article/peran-generasi-muda-sebagai-agent-of-change-dalam-menghadapi-era-society-50-Qn1WZ, Diakses tanggal 6 Maret 2023
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012, 2012. “Pedoman Pengelolaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah”. http://jdih.menlhk.co.id, Jakarta, Diakses pada tanggal 1 Juli 2022.
Riza Elsa Surya dan Suyono, 2013. Pengaruh Pengomposan Terhadap Rasio C/N Kotoran Ayam dan Kadar Hara NPK Tersedia Serta Kapasitas Tukar Kation Tanah. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/unesa-journal-of-chemistry/article/view/ 1471/1094. Diakses pada tanggal 7 Juli 2022.
Sustaination, 2021. Bahaya Sampah Organik, Ancaman Besar Bagi Bumi Kita. https://sustaination.id/bahaya-sampah-organik/. Diakses pada tanggal 02 Juli 2022.
Tim Detikcom, 2021. “Bali Produksi Sampah Plastik”, DetikCom, https://news. detik.com/berita/d-5388324/bali-produksi-sampah-plastik-829-ton-per-hari-hanya-7-yang-didaur-ulang. diakses pada tanggal 14 Juli 2022.
Undang-Undang RI No.18 tahun 2008, 2008. “Pengelolaan Sampah”. Diakses pada tanggal 1 Juli 2022.
Universitas Muhammadyah Yogyakarta, 2016. “Metodologi Penelitian”, http://repository. umy.ac.id. Diakses pada tanggal 29 Juni 2022.
Wayan Putra Garden. cara membuat pupuk kompos super subur 1 Minggu jadi dengan bahan sayur sisa, daun tua, dan rumput. https://www.youtube.com/ watch?v=zNb2cfeAG0s. Diakses pada tanggal 1 Juli 2022.
Wahyono, 2018. “Daur Uang Sampah dan Komposting”. http://sriwahyono. blogspot.com, Diakses pada tanggal 1 Juli 2022.





Komentar
Posting Komentar